Perbandingan Sistem Cerdas Pada Tiga Negara di Asia

December 16, 2018 0 Comments A+ a-


Smart Airport di Indonesia

Kini ada yang baru di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta melalui kehadiran sosok robot imut berwarna putih untuk melayani pengguna jasa.
Robot pintar tersebut bernama DILO yang baru aktif beroperasi pada Airport Digital Lounge Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta dan rencananya akan dihadirkan pula di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.



Menurut Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, DILO memiliki fitur multimedia seperti musik, video, dokumen dan lainnya melalui layae sentuh pada robot atau proyektor.

"Untuk menggerakkan fisik robot, pengoperasian DILO secara remote melalu aplikasi Q-link. Robot pintar ini juga dapat menari dengan diiringi musik, serta dapat bergerak ke segala arah dan dapat menghindari rintangan kecuali kaca," ujar Awaluddin dalam keterangan resminya, Jumat (24/8/2018).

Dirinya melanjutkan, untuk mengatur konten dan pengaturan robot, dapat dilakukan melalui Multi Platform System (MPS).

Rencana kedepan, DILO akan diisi konten tentang bandar udara yang dikelola PT Angkasa Pura II dan Asian Games 2018 serta integrasi chatbot (aplikasi TASYA) ke dalam robot.
"Airport Digital Lounge dan robot DILO merupakan pusat layanan terintegrasi dari Angkasa Pura II yang memadukan kemudahan layanan informasi bandara dengan teknologi digital terkini (state of the art technology)," kata Awaluddin.

Rencananya, lanjut Awaluddin, seluruh cabang Angkasa Pura II akan dilengkapi Airport Digital Lounge serta DILO pada tiap bandaranya.

Senior Manager Branch Communication and Legal, Febri Toga Simatupang mengatakan, DILO juga dapat membantu penumpang dalam self check-in, mencark coworking space, digital wayfinding, reservasi perjalanan atau akomodasi.

"Iya DILO ini bisa untuk sebagai informasi flight dan membantu pemesanan penerbangan. Nanti di akan ada petugas yang membantu pengoperasian di Airport Digital Lounge," kata Febri kepada TribunJakarta.com.

Dirinya pun melanjutkan, DILO juga dapa memberikan informasi seputar bandara, seperti lokask toilet, tingkat kebersihan, dan informasi lainnya yang dibutuhkan penumpang.



Smart Airport di Singapore

Di Changi airport Singapura, penumpang pesawat tidak sekedar mau bepergian atau mendarat. Baik saat transit, stop over atau mau terbang, orang meluangkan waktu untuk plesir  di sekitar bandara Changi. Beragam obyek wisata disediakan di kawasan   bandara Changi. Sarana dan fasilitas wisata itu butuh pekerja.

Orang-orang tidak menumpuk di satu area meski bandara Changi dipadati lebih 62,2 juta pada tahun 2017 dan diperkirakan menjadi 85 juta pada tahun 2020.
Seusai melakukan check ini di mesin baik untuk urusan boardingpass, bagasi, dan urusan imigrsi yang waktunya hanya 10 menit, orang-orang memanfaatkan waktu untuk melancong di bandara Changi.

Bandara Changi memiliki 4 terminal dengan  65 unit FAST (Fast and Seamless Travel) Check merupakan cara yang otomatis melayani para penumpang yang hendak memproses check in dan boarding ke pesawat. Calon penumpang tidak lagi berhadapan dengan manusia.



Mesin akan mensensor paspor penumpang dan dengan scanner, data calon penumpang akan    dicocokkan dengan wajah yang difoto dengan menggunakan teknologi facial recognition.

Jika data foto cocok dengan data dari paspor, maka mesin akan mencetak boarding pass penumpang dan pita penanda bagasi milik penumpang.  Bagasi dapat dibawa ke kios penerimaan secara otomatis.



Smart Airport di Jepang

Penggunaan tenaga robot untuk berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan oleh manusia bukanlah sesuatu hal yang baru. Bahkan kini robot pun dapat pula digunakan sebagai sosok penerima tamu. Hal inilah yang dilakukan oleh negara Jepang untuk menyambut kedatangan para turis di Bandara Internasional Haneda Tokyo.


Di bandara ini, pemerintah Jepang menempatkan robot humanoid NAO yang bertugas untuk menyambut kedatangan para traveler. Unik memang. Terlebih lagi robot ini juga mempunyai kemampuan berbicara dalam tiga bahasa, yakni bahasa Jepang, Inggris dan terakhir adalah bahasa Mandarin. Namun kemampuan menjawab pertanyaan dari robot NAO ini masih sangat terbatas. Seperti dikutip dari Mashable, robot NAO ini hanya mampu menjawat tujuh jenis pertanyaan.

Robot ini pun didesain mampu melakukan gerakan yang menggemaskan untuk memberi pengumuman kepada para penumpang. Terlebih pengumuman terkait waktu boarding dan cek keamanan. 



Dari tiga bahasa yang dikuasainya, robot NAO ini mempunyai kecakapan lebih dalam berbicara bahasa Jepang. Dan tujuh pertanyaan yang bisa dijawab oleh robot setinggi 60 sentimeter ini antara lain adalah terkait waktu boarding hingga kondisi cuaca di destinasi perjalanan.



Kesimpulan

Jika dilihat Indonesia masih tertinggal jauh mengenai teknologi dibandingkan beberapa negara maju, penulis harap pemerintah dapat memberikan support dan apresiasi terhadap para developer atau pengembang dari Kecerdasan Buatan yang ada di Indonesia. Semoga Indonesia dapat mengejar ketertinggalannya dari negara-negara lain dalam pengembangan teknologi utamanya Kecerdasan Buatan.

Sumber : 
www.beritateknologi.com
sulteng.antaranews.com
jakarta.tribunnews.com